O, Jadi Gini Ya Rasanya!

Oleh : Rafida Multazima W. (15814008)

November 2016, aku lupa apa sebutan untuk bulan ini, yang kutau sih ada September ceria dan Desember kelabu. Ya entahlah, apapun itu sebutannya, kali ini aku akan bercerita padamu. Ceritaku kali ini bukan berasal dari kisah curahan hati seorang perempuan yang sedang dimabuk asmara, dirundung duka, atau dilanda galau, tetapi ini kisah tentang seorang anak perempuan yang sedang mengadu nasibnya diatas sebuah meja yang dikelilingi orang-orang penting dimana nasibnya dan rekan-rekan seperjuangannya dipertaruhkan diatasnya.

Kisah ini bermulai ketika tepat satu bulan sebelumnya perempuan ini nekat mendaftarkan dirinya pda sebuah pelatihan kepemimpinan yang diadakan oleh sebuah perusahaan ternama dalam negerinya. Sebuah pelatihan yang menawarkan pengalaman serta hasil yang cukup menarik memang, diiming-imingi akan mendapatkan sesuatu yang tak ternilai harganya dan tentunya tak akan didapatkan pada bangku kuliah selama delapan hari, si perempuan yang sedang haus akan nilai kemahasiswaan dan nasionalisme yang hakiki ini pun berangkat. Berharap delapan harinya bolos kuliah tak akan berakhir sia-sia, berharap saat kembali ia akan mendapat suatu nilai yang mungkin tak terbilang nilainya, tapi efeknya terus berlanjut dalam dirinya.

Diakui memang oleh si perempuan ini, sekembalinya ia ke kampus setelah delapan hari yang-tak-dapat-terkisah-oleh-kata itu sejatinya memang membawa perubahan, meski tak banyak, tapi ia yakin ada. Dikiranya setelah usai acara pelatihan itu, si perempuan bisa tenang kembali dan sibuk dalam segala rupa bau kampus cap gajahnya, namun ternyata ia salah.

Diberikan tugas untuk menjadi duta perusahaan yang memberikan fasilitas pelatihan pun tak lantas menjadikan si perempuan ini dapat hidup tenang, justru tantangan baru datang menyapanya. Ya, dia dan rekan duta satu kampusnya yang juga satu fakultas dengannya itu sama-sama memiliki tugas dan tanggung jawab baru, yakni : mempersiapkan acara sosialisasi bagi masyarakat sekitar kampusnya terkait program perusahaan tersebut, sebut saja perusahaannya adalah perusahaan asuransi pemerintah yang dulu dikenal dengan nama ‘jamsostek’

Tugas tersebut lantas bernama “Gebyar Ambasssador”, diadakan oleh seluruh perguruan tinggi negeri (PTN) yang merupakan mitra karya salemba empat. Jika kamu belum tahu itu apa, karya salemba empat adalah yayasan yang memberikan fasilitas beasiswa pada mahasiswa-mahasiswi yang ingin mengembangkan potensinya baik dibidang akademik maupun non akademik. Kembali pada Gebyar Ambassador, dalam acara ini, si perempuan bersama rekan duta-nya harus dihadapkan pada keadaan : “oke, lo belom kenal banyak orang disini, tapi lo harus bisa kerja bareng mereka.”

Ditambah lagi harus memilih jajaran panitia yang seharusnya akan sangat mungkin untuk dimanfaatkan tenaga, waktu, dan pikirannya, namun pada kenyataannya tidak semudah itu. ‘Memanfaatkan’ mungkin terdengar terlalu kasar, mungkin dapat diganti dengan kata ‘bekerja sama’. Baiklah, bekerja sama dengan orang baru memang tidak semudah itu, belum kenal tetapi harus meminta tolong, sudah terbayang oleh si perempuan bahwa akan sangat sulit mendapati kalimat “ya, oke besok gue bisa kumpul” atau sekadar membalas chat sosial media bernama line yang kini rasanya menjadi tumpuan hidup sebagian besar mahasiswa di Indonesia.

Grup dan multichat yang dibuat pada sosial media line, beberapa hingga puluhan chat sok kenal sok deket kemudian mengarah pada “plis bantuin gue, gue butuh lo”, nyatanya hanya bisa sampai sampai kepada kalimat “gue banyak tugas, sorry gabisa bantu…” entah, apa yang ada dalam pikiran mereka, padahal sadar atau tidak pun si perempuan memiliki beban dan tugas yang sama sebagai seorang mahasiswi.

Tak terhitung berapa kali si perempuan dan rekan dutanya harus saling mencurahkan isi hati dan mengeluhkan betapa beratnya tugas sebagai duta atau bahasa kerennya ‘brand ambassador’ ini. Berapa kali si perempuan harus pergi menempuh jarak kurang lebih 28 kilometer Bandung-Jatinangor dengan sepeda motor kesayangannya yang ia namai ‘dunlopita’, ditambah lagi dunlopita mulai tua dan sakit-sakitan sehingga seringkali ngambek meminta didorong oleh si perempuan. “Ya Tuhan tolong! Kenapa mereka se-apatis itu? capek!” begitulah kiranya suara batin si perempuan kala ia tak ingat bahwa bantuan Tuhan itu nyata adanya.

Segera setelah kalimat itu terlontar si perempuan langsung teringat bahwa ini semua pasti ada unsur salahnya, pasti ada yang salah dalam dirinya sehingga ia harus merasa seakan bebannya paling berat seluruh jagat raya. Baiklah, kini si perempuan pun mulai mengubah cara kerja dalam dirinya, ia mencoba untuk lebih bersyukur atas keadaan dirinya, mencari jalan keluar bukan mencaci masalah yang ada, mencari teman bercerita yang lain bukan menambah derita teman sesama duta kampusnya, mencoba tegas pada sesama panitia yang banyak alasan bukan diam saja tapi mengeluh kemudian. Ya, akhirnya si perempuan sadar bahwa setiap gelap akan menemukan terangnya. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.

Kini, masalah sok kenal sok dekat pun tak lagi jadi beban baginya. Tepat pada satu hari sebelum pelaksanaan, pihak perusahaan asuransi tersebut meminta si perempuan untuk sudah siap di tempat acara saat jam empat pagi. Tanpa berpikir panjang, si perempuan langsung mengetik tujuh kata yang lalu jadi bumerang bagi dirinya, “Baik Pak, saya dan teman-teman siap”, dengan yakin bahwa bantuan selalu ada terutama saat sudah kepepet, si perempuan ini pun melempar wacana dalam grup line terkait acara tersebut. Alhamdulillah responnya baik, Tuhan memang tidak pernah membiarkan hambanNya susah sendirian. Selalu ada jalan.

Saat titik terang mulai terlihat dan si perempuan ini merasa panas dalam dirinya tiba-tiba saja naik, seperti ada semburan semangat dalam diri, langsung saja ia menyusun strategi, briefing via line, menelepon segala pihak terkait ketersediaan logistik, tempat dan lain sebagainya, memastikan segalanya siap sebelum ia tidur dengan senyum diwajahnya. Paginya, tepat pukul tiga, si perempuan sudah terbangun. Kost-an kakak tingkat semasa SMA yang kini menjadi tempatnya menumpang tidur sejenak itu pun masih sangat sunyi saat si perempuan dengan perlahan membuka pintu kamar dan langsung beranjak ke atas loteng, mencari sinyal, mencari kedamaian, sembari melihat sudut kota bandung dari atas. Kemudian jemarinya yang agak besar itu menekan beberapa nomer telepon, beberapa diantaranya ia kenal namun beberapa lainnya sama sekali belum pernah ia temui, “Halo, bang Bangun! Sorry ganggu nih, jangan lupa jam empat ye.” Katanya. “Oiya gua udah bangun kok, sip” terdengar kalimat yang melegakan dari seberang sana. Begitu kiranya, dari satu nomor ke nomor lainnya, berita baik seperti itu pun kian banyak.

Si perempuan semakin bersemangat, diambilnya baju ganti, sikat gigi dan alat mandi lainnya, dinginnya kota Paris Van Java pun tak lagi jadi bagian dari kekhawatiranya dan ia pun mandi. Selesai semua urusan, tepat pukul empat kurang lima belas, si perempuan beranjak menuju pintu utama, dibukanya perlahan dan dalam sekejap ia pun sudah berada dijalan raya. Seakan begal dan segala ancaman tidak pernah ada, si perempuan melenggang santai. Satu, dua….sepuluh langkah, tak terasa, hingga akhirnya ada sebuah motor dengan dua lelaki menghampiri, si perempuan mempercepat langkah mendekati lampu jalan yang cukup terang dekat sebuah pos ronda. Si perempuan yang agaknya bernyali ciut ini pun memberanikan diri, kali ini bukan nomor sahabat setianya yang ia tahu tinggal dekat situ yang ia tekan untuk mengusir takut, tetapi nomor seseorang yang belum dikenalnya, “halo, bang Bima dimana ya? Gue udah didepan.” Katanya

“Oke gue kesana.” Ya, lagi-lagi suara melegakan itu datang.

Entah apa yang ada dalam benak si perempuan, kali ini ia kembali pada ponselnya, dengan sedikit waspada, ia pun menuliskan pesan, “oy Pras, gue dibelakang kosan lu sekarang, kebon Kembang. Kalo tiba2 gue nelpon, plis angkat karena artinya gue dalam bahaya.” Namun setelah pesan itu diketik, ia tak lantas mengirimkannya, ponselnya langsung dimasukkan, si perempuan sadar bahwa nasibnya tidak harus bergantung pada kebaikan orang lain. Ia harus berusaha sendiri.

Sembari menunggu seseorang bernama Bima yang sebenernya dia tak tahu seperti apa rupanya dan seperti apa pula sifatnya ini pun si perempuan kembali berjalan, ia hanya berharap Bima cepat sampai atau pilihan lainnya adalah berharap Pras segera datang jika ada bahaya, ya meski rasanya tak mungkin, atau ini pilihan terbaik yang bisa ia pikirkan saat itu: lari sambil teriak “tolong-tolong!” kemudian pura-pura kesurupan ditengah jalan jikalau ada dua preman seperti tadi, tujuannya? Agar preman itu takut dan menghindar. Ah, kamu pasti bercanda jika berpikir si perempuan seharusnya bisa berlari cepat dalam keadaan genting. Mana ia bisa, berlari di kampus saat mata kuliah olahraga saja ia jalankan dengan setengah hati, setengah mati.

Hari itu, sepertinya memang nasib baik sedang berpihak pada ia yang merasa teraniaya oleh pilihannya sendiri, Bima pun datang. Setelah basa-basi sedikit, mereka pun berangkat menuju masjid Salman, selesai menunaikan sholat shubuh, mereka langsung menuju tempat dilaksanakannya acara.

Semua berjalan sesuai rencana, logistik lengkap, pihak terkait datang tepat waktu, kini waktunya beraksi. Si perempuan dan rekan dutanya merasa sangat dihargai hari itu karena panitia dan teman-teman sesama penerima beasiswa datang dengan senyum dan nampak antusias menanyakan tugasnya pada hari itu, tanpa bosan pula mereka menjelaskan bahwa hari itu mereka harus menyampaikan program asuransi terkait tenaga kerja dan segala resiko yang mungkin terjadi. Brosur, leaflet dan kertas pendaftaran pun dibawa keliling car free day Dago hari itu, harapannya hanya satu “warga Bandung tercerdaskan mengenai asuransi ini” ya, asuransi BPJS Ketenagakerjaan namanya.

Dan si perempuan ini pun mendapat banyak pelajaran, dia belajar bahwa mengemban amanah itu tidaklah mudah, ia pun belajar bahwa dalam setiap perjalanan pasti ada rintangan, sabar itu harus namun tegas itu pilihan. Ia pun belajar menghargai waktu, bagaimana harus berdamai dengan egoisme dalam diri saat satu himpunan jurusannya pergi makrab dan ia harus mengurusi acara ini hingga benar-benar tuntas, belajar harus menjaga komitmen yang telah dibuat diawal bahwa ia akan menjadi duta yang sebenar-benarnya bisa dipercaya untuk menjalankan tugas terkait, belajar bahwa kemampuan sok kenal sok dekat itu memang perlu, belajar untuk selalu mengucap kata maaf, tolong dan terima kasih sebagai bentuk saling menghargai dan mengapresiasi, ya banyak memang hingga tak mampu ia sebutkan.

“Allah itu nguji kamu, seberapa sabar kamu dikasih tugas ini, seberapa kuat kamu bisa bertahan dalam kesempitan, dan sebagaimana bisa kamu menjaga amanah.” Satu lagi nasehat dari ibu si perempuan yang ia ingat hingga kini.

“Lo dikasih amanah sebagai ketua, buat memberikan semangat sama temen-temen lo, kalo lo nya aja ga semangat, gimana bisa mereka mau bantuin lo? Semangat ah, ga kenal gue sama fifi yang pemurung gini.” Ujar Pras yang tumben bijak saat si perempuan datang untuk berbicara panjang lebar usai kekesalannya ditimpakan kenyataan bahwa persiapan acara kacau balau padahal sudah tiga hari lagi menuju acara.

Selesai acara, si perempuan yang belakangan diketahui bernama Rafida atau akrab disapa Fifi ini pun mengucap terima kasih pada seluruh pihak yang terlibat, atas segala pengalaman dan pengajaran yang menjadikannya lebih dewasa, atas segala nasihat, omelan serta kecemasan yang entah sengaja ataupun tidak yang ditujukan padanya, terima kasih juga pada rekan duta bernama Saras atas kesediannya untuk selalu ada dalam setiap kondisi, senang dan susah.

Terima Kasih, karena kini Fifi tau bagaimana rasanya mengemban amanah sebagai ketua acara ditengah keadaan yang awalnya terasa tidak memungkinkan lantaran belum seluruh pihak terkait ia kenal. Terima Kasih, semoga acara Gebyar Ambassador 20 November 2016 tersebut bisa menambah pengalaman teman-teman. Si perempuan yang kini akan menyebut dirinya sebagai Fifi ini mohon maaf jikalau selama keberjalanan acara masih sangat kurang memuaskan, maaf juga jika sebelumnya Fifi berisik di grup dan maaf untuk semua kesalahan yang mungkin ada tanpa Fifi sadar. Semoga ke depannya KSE ITB bisa lebih saling mengenal satu sama lain dan mengadakan acara bermanfaat lainnya, aamiin.

About the author

admin

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *